Sunday, April 1, 2012

Menjadi Sukses atau Menjadi Berkat?

"Muak lama-lama berada diantara orang-orang yang mementingkan uang diatas segalanya"

Kalimat diatas adalah status salah satu teman saya di wall Facebook-nya. Sadarkah Kita seringkali berada di dalam situasi di mana uang seakan-akan menjadi segalanya. Kok bisa? Karena kenyataannya, segalanya membutuhkan uang, toh. Jadi secara tidak sadar kita mendewakan uang. Benar uang bisa membeli segalanya, tetapi tahukah Anda, bahwa uang juga bisa mengambil kepribadian Anda?

Untuk saya, uang memiliki saudara kembar yang bernama sukses. Manusia cenderung menilai kesuksesan dihitung dari harta benda yang orang tersebut miliki. Apabila orang tersebut memiliki rumah yang mewah, mobil sport yang supercepat, sukseskah orang tersebut? Atau mungkin karena jabatan dan posisi yang ia miliki? Bisa jadi.

Saya pernah menanyakan kepada beberapa orang tentang definisi sukses menurut beberapa mereka.Jawaban yang saya dapatkan cenderung lebih kepada tentang banyaknya harta yang bisa dikumpulkan.

Sukses adalah area tertinggi dalam kehidupan manusia. Siapa yang tidak mau sukses? Siapa yang tidak mau kaya? Bukankah kesuksesan adalah tujuan utama dari apa yang orang lain tuju? Bukankah kesuksesan adalah tujuan dari perencanaan yang orang lain lakukan secara detil? Berapa banyak strategi dan perencanaan yang kita lakukan untuk mengejar kesuksesan? Bukankah kesuksesan adalah tujuan kenapa orang berlomba-lomba memperoleh pendidikan yang tinggi dan lainnya? Semuanya itu kita jalankan untuk menjadi sukses! Orang tua mana yang tidak ingin melihat anaknya sukses?

Sebegitu pentingnya kata kesuksesan ini, sehingga Anda bisa melihat beberapa iklan rokok di media-media luar ruang menjadikan kesuksesan adalah tema promosi mereka. Untuk saya, mendefinisikan pengertian akan kata sukses sungguhlah sulit, karena atas dasar apa kita bisa mengatakan bahwa seseorang telah sukses? Apakah dari segi harta benda saja? Kalau benar dari harta benda, Maka seberapa besarkah ukuran rumah seseorang untuk mengatakan dia sukses? Seberapa mahal dan banyak jumlah kendaraan pribadi yang harus dimiliki seseorang untuk bisa mengatakan bahwa orang tersebut sukses?Seberapa banyakkah tabungan yang harus dia miliki untuk dikatakan bahwa seseorang tersebut sukses?

Tidakkah Anda sadar bahwa sukses adalah target yang terus berjalan? Posisi dari kesuksesan selalu berjalan, dan tidak peduli apa yang Anda lakukan untuk menyetop kesuksesan Anda di satu titik. Titik itu tidak akan pernah diam disana. Banyak orang berhenti di puncak kesuksesannya, namun saat kesuksesan itu tidak lagi ada disana, orang tersebut mulai lagi mencari kesuksesannya.

Kesuksesan bisa membuat kita tidak bisa tidur terkadang apabila kita terjepit di tengahnya. Apabila Anda melihat orang yang lebih sukses dari Anda, bisa jadi hal ini membuat Anda mempertanyakan kapabilitas Anda dan Anda tidak nyaman dengan hal ini. Atau bisa juga Anda melihat orang yang tidak sesukses Anda, dan Anda akan bangga dengan hal ini.

Terlepas dari seberapa besar kesuksesan yang Anda terima, akan selalu ada hal yang membuat Anda tidak pernah puas. Anda selalu ingin lebih. Sepertinya selalu akan ada gunung yang harus didaki, selalu akan ada sungai untuk diseberangi, selalu ada level baru untuk dicoba. Saya memiliki banyak teman-teman yang seperti itu, karir mereka sudah sukses, tetapi mereka merasa karirnya tidak sukses.

Mereka ingin menjadi "Yang paling Sukses". Gaji mereka sudah besar, tetapi mereka merasa gaji mereka belumlah besar. Mereka ingin gaji yang "Terbesar" Saya rasa begitu juga dengan orang-0rang yang berada dalam pelayanan gereja. Banyak saya mendengar orang iri dengan gereja yang lain karena gereja yang lain terlihat 'lebih sukses' baik dalam jumlah jemaat, sistem pelayanan dan lain hal.

Saya sendiri bukan orang yang sukses, karena untuk saya kesuksesan cenderung menyesatkan. Bisa jadi saya akan berubah menjadi orang yang menyebalkan saat sukses karena mungkin saya sombong, saya mungkin menjadi sok dan lain sebagainya. Jadi, yang saya coba pilih adalah : Saya lebih memilih untuk mencoba menjadi orang yang menjadi berkat untuk orang lain ketimbang saya menjadi orang yang sukses secara materi saja.

Benar bahwa kita membutuhkan uang, tetapi ketika saya bisa membantu orang lain, saya merasakan sukses. Rasanya saya lebih merasakan nikmat ketika kesuksesan saya bisa membantu orang lain. Ambil contoh, kalau dulu saya membuat website, tujuannya adalah untuk pamer dan mem-boost jumlah pengunjung untuk sekedar memamerkan desain blog saya, sekarang tujuan saya membuat blog adalah untuk mencoba memberkati hidup orang lain entah dengan merubah cara pikir orang lain dan sebagainya dengan menulis semua artikel yang ada di blog saya dengan harapan tulisan saya bisa membantu merubah sedikit cara pikir orang lain. Saya juga memikirkan bagaimana saya bisa menjadi berkat di kota dan keluarga saya. Untuk gereja saya. Untuk orang-orang yang sekiranya membutuhkan saya?

Apakah salah menjadi sukses? Saya tidak mengatakan salah menjadi sukses. Tidaklah salah menjadi kaya karena hasil kerja keras Anda. Tetapi apakah Anda tahu dengan menjadi berkat untuk orang lain, kesuksesan juga bisa datang kepada Anda? Karena Anda memiliki banyak teman baru dan channel-channel baru yang siap dan bisa mendorong Anda ke arah kesuksesan. Berbagi kepada orang lain juga adalah sumber kekayaan yang baru.

Anda bisa saja seumur hidup mencoba mendapatkan segala bentuk kesuksesan materi yang Anda inginkan hingga akhirnya kesuksesan itu Anda dapatkan. Masalahnya, ketika Anda menjadi sukses secara materi, belum tentu Anda menjadi berkat untuk orang lain. Bisa jadi kesuksesan Anda hanya dinikmati oleh Anda seorang. Tetapi apabila kesuksesan yang Anda miliki ikut menjadi berkat untuk orang lain, kepuasan yang Anda dapatkan akan dua kali lipat porsinya. Anda bisa seumur hidup menjadikan hidup Anda berkat untuk orang lain.

Suster Teresa begitu sukses dan dikenal namanya di seluruh dunia bukan karena memiliki harta benda yang banyak, tetapi karena hidupnya ditujukan untuk menolong orang lain. Dia memilih menjadikan hidupnya berkat untuk orang lain, dan apa yang dia dapat? Sebut saja. Mulai darikKesuksesan, nama besar, penghargaan, dan lain sebagainya. Kesuksesan mengikuti dirinya. Jadi, saran saya untuk Anda adalah gabungkan keduanya. Jadilah sukses dan jadikan kesuksesan Anda berkat untuk orang lain. Jadilah berkat untuk orang lain, dan kesuksesan ada di tangan Anda.

Mari saya berikan kepada Anda cerita yang ada di Alkitab tentang penggabungan antara kesuksesan dengan berkat.

* Lukas 10:25-37
10:25 Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"
10:26 Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?"
10:27 Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."
10:28 Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup."
10:29 Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?"
10:30 Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.
10:31 Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.
10:32 Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.
10:33 Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.
10:34 Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.
10:35 Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.
10:36 Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?"
10:37 Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"

Sadarkah Anda bahwa orang Samaria ini tidak hanya baik hati, tetapi ia juga memiliki kesukesan secara materi? Karena dikatakan dalam cerita ini, ia memiliki minyak dan anggur. Perlu diketahui bahwa pada saat itu, minyak dan anggur adalah barang yang cukup mahal harganya. Dan lebih dari itu, ia bahkan membayari harga penginapan agar orang yang terluka itu dapat beristirahat.

Jadi, apabila dilihat dari segi materi, orang Samaria ini bisa dibilang orang yang berkecukupan atau mungkin lebih, dan ia menggunakan kesuksesannya untuk dibagikan kepada orang lain agar menjadi berkat? Berapa banyak dari kita yang sebenarnya memiliki harta yang cukup untuk dibagikan kepada orang lain? Mungkin benar, kita sudah sukses, tetapi apakah kita (juga) sudah menjadi berkat untuk orang lain?

1 comment:

  1. benih2 kesuksesan itu sbenernya sudah ada didalam diri kita,tinggal bagaimana kita menjadikannya sukses,dan semakin lengkap kalau bisa jadi berkat buat orang laen..skali lagi,topik yg mantep,Tre..sangat menginsipirasi

    ReplyDelete